• Teknologi Pembelajaran-by Nita Adiyati

    Never let formal education get in the way of your learning (Mark Twain)

  • Teknologi Pembelajaran-by Nita Adiyati

    Education is not preparation for life, education is life for it self (John Dewey)

  • Teknologi Pendidikan

    Education is the most powerful weapon which you can use to change the word (Nelson Mandela)

Showing posts with label Resume Buku. Show all posts
Showing posts with label Resume Buku. Show all posts

Tuesday, October 16, 2018

RESUME BUKU MENYEMAI BENIH TEKNOLOGI PENDIDIKAN

MENYEMAI BENIH TEKNOLOGI PENDIDIKAN


Penulis: Prof. Dr. Yusuf Hadi Miarso, M.Sc

 

BAB I

PENGEMBANGAN TENAGA PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Banyak berbagai macam formulasi mengenai definisi teknologi pendidikan. Salah satu definisi teknologi pendidikan yang dijelaskan didalam buku “menyemai benih teknologi pendidikan” bahwa teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan pengembangan secara sistematis berbagai macam sumber belajar, termasuk didalamnya pengelola dan penggunaan sumber tersebut. Pada umumnya, teknologi pendidikan dianggap memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas pendidikan, memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, lebih memantapkan pengajaran, memungkinkan belajar secara seketika, dan memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas terutama adanya media massa. Teknologi pendidikan memiliki dua fungsi utama, yaitu pertama sebagai fungsi pengembangan dari teori, rancangan, produksi, evaluasi-seleksi, logistik, pemanfaatan dan penyebaran. Kedua sebagai fungsi pengelolaan dari organisasi dan personal.
Ada beberapa konsep dasar dan asumsi yang terdapat didalam teknologi pendidikan antara lain : (1) Kegiatan pendidikan pada hakikatnya memberikan perubahan pada diri pribadi anak didik, (2) Proses pendidikan berlangsung seumur hidup (education along life), (3) Pendidiakn dapat berlangsung kapan dan dimana saja, (4) Pendidikan dapat berlangsung secara mandiri (independent) dan efektif dengan dilakukannya pengawasan dan penilikan berkala, (5) Pendidikan dapat berlangsung secara efektif baik didalam kelompok yang homogeny, heterogen, ataupun individu, (6) Belajar dapat diperoleh dari siapa dan apa saja, baik yang sengaja dirancang maupun yang diambil manfaatnya.
Menurut Dr. Daoed Joesoef karakteristik penerapan teknologi pendidikan dibagi menjadi dua yaitu karakteristik yang tampak dan karaketristik yang tidak tampak. Karakteristik yang tampak dalam penerapan teknologi pendidikan berupa: adanya sumber belajar yang dipakai anak didik untuk belajar dan adanya berbagai bentuk pola belajar mengajar serta berbagai bentuk lembaga pendidikan. Sedangkan karakteristik yang tidak tampak berupa proses pengembangan sumber belajar dan pengembangan sistem pembelajaran.
Kompetensi tenaga ahli bidang teknologi pendidikan perlu menguasai empat tugas dan fungsi anatara lain meliputi : (1) Untuk pengembangan program pembelajaran terutama dalam perencanaan model atau pola /media untuk kegiatan pembelajaran, (2) Untuk pengembangan produk terutama dalam bidang rancangan paket-paket belajar, produksi paket dan teknik pemanfaatan paket belajar, (3) Untuk pengelolaan media dan alat terutama bidang logistik, evaluasi dan seleksi, (4) Untuk guru/tenaga pendidik, terutama dalam bidang teori dan aplikasi, pemanfaatan media, teknik pembelajaran serta penyebaran informasi dan produk teknologi pendidikan.
Secara pendekatan teoritis, kawasan teknologi pendidikan dapat dianalisis berdasarkan fungsi dan bidang tugas kompetensi seperti tabel dibawah ini :
Secara umum, kompetensi profesi teknologi pendidikan dapat dikelompokan meliputi (1) Kemampuan memahami landasan teori dan aplikasi teknologi pendidikan, (2) Kemampuan merancang pola pembelajaran, (3) Kemampuan produksi media pendidikan, (4) Kemampuan evaluasi program dan produk pembelajaran, (5) Kemampuan mengelola media dan sarana belajar, (6) Kemampuan memanfaatkan media pendidikan dan teknik pembelajaran, (7) Kemampuan menyebarkan informasi dan produk teknologi pendidikan, (8) Kemampuan mengelola lembaga sumber belajar.
Teknologi pendidikan juga diperlukan dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya yang dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Prosedur pendidikan dan latihan sumber daya manusia (PLSDM) dalam garis besarnya meliputi kegiatan identifikasi kebutuhan, identifikasi kondisi, perumusan tujuan, pengembangan jadwal dan materi pendidikan, pelaksanaan pendidikan, evaluasi dan umpan balik.
Tenaga profesi teknologi pendidikan mempunyai tanggung jawab kepada peserta didik sebagai perorangan, kepada masyarakat, kepada rekan seprofesi, dan profesi lain yang berkaitan. Secara de facto, tugas pokok tenaga profesi teknologi pendidikan meliputi : (1) Pengembangan bidang studi dan kawasan teknologi pendidikan, (2) perancangan sistem pembelajaran, (3) Produksi media pendidikan, (4) Penyediaan sarana dan prasarana belajar, (5) Pemilihan dan penilaian komponen sistem pembelajaran, (6) Penerapan/pemanfaatan sumber daya manusia, (7) Penyebaran konsep dan temuan teknologi pendidikan, (8) Pengelolaan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya belajar, (9) Perumusan bahan bijakan teknologi pendidikan. Sedangkan secara de jure profesi teknologi pendidikan telah mengabdikan dirinya sebagai pengelola, perencana, pengembang, penilai dan pengguna sistem dan komponen pembelajaran didepartemen/lembaga Negara, angkatan bersenjata, perguruan tinggi, lembaga diklat, lembaga media, berwirausaha dalam pelatihan serta berwirausaha dalam produksi media dan sarana pendidikan.
Setiap profesi paling sedikit harus memenuhi empat syarat antara lain : (1) pendidikan dan pelatihan yang memadai, (2) adanya komitmen terhadap tugan profesionalnya, (3) adanya usaha mengembangkan diri sesuai dengan kondisi lingkungan dan tuntutan zaman, dan (4) adanya standar etik yang harus dipatuhi. Mereka yang berprofesi/bergerak dalam bidang teknologi pendidikan, harus memiliki komitmen dalam melaksanakan tugas profesionalnya yaitu terselenggaranya proses belajar bagi setiap orang, dengan mengembangkan dan menggunakan berbagai sumber belajar dengan karakteristik masing-masing pembelajar (learners) serta perkembangan lingkungan. Oleh karena itu para teknologi pendidikan harus selalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.
IPTPI merupakan suatu organisasi profesi yang berasaskan Pancasila dan bertujuan menghimpun sumber daya untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi pengembangan teknologi pendidikan sebagai suatu teori, lapangan, dan profesi di tanah air bagi kemanfaatan kemajuan bangsa Indonesia. Program pendidikan profesi teknologi pendidikan yang dimulai sejak 1976 terus mengalami perkembangan, baik lembaga penyelenggaranya maupun peserta dan lulusannya. Mereka dituntut untuk bersikap proaktif dalam mewujudkan visi dan misi teknologi pendidikan sebagai suatu disipilin ilmu.


BAB II
PENGEMBANGAN KONSEPTUAL TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Ditinjau berdasarkan falsafah ilmu, ilmu pengetahuam memiliki tiga komponen sebagai penyanggah tubuh pengetahuan antara lain: (1) ontologi (apa) merupakan asas dalam menetapkan ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan, serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek tersebut, (2) epistemologi (bagaimana) merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan, (3) aksiologi (untuk apa) merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut.
Menurut Saettler dalam teknologi pendidikan dengan rumusan prinsip-prinsip antara lain: (1) aktivitas diri; (2) minat/motivasi; (3) kesiapan mental; (4) individualisme; (5) sosialisasi. Untuk melaksanakan prinsip-prinsio tersebut, guru harus mengendalikan kegiatan belajar anak didalam kelas kearah yang dikehendaki, namun dengan tetap memperhatikan minat dan respon anak terhadap stimulasi yang diberikan. Stimulasi itu perlu disesuaikan dengan kesiapan mental anak, dan kecuali itu berbedaan individual perlu diperhatikan dengan jalan merancang dan mengatur situasi sedemian rupa dengan menggunakan media, agar terjadi hubungan antara apa yang sudah diketahui anak dengan hal baru.
Berdasarkan landasan ontologi teknologi pendidikan, yaitu: adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang, pesan, media, cara-cara tertentu dalam mengolah atau menyajikan pesan, serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung; perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual, maupun secara faktual; dan perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna keperluan belajar.
Berdasarkan landasan epistimologi teknologi pendidikan, yaitu  keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan; unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik; dan penggabungan kedalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri.
Sedangkan berdasarkan landasan aksiologis teknologi pendidikan yaitu “teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus-menerus karena adanya kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; meningkatkan mutu pendidikan; penyempurnaan sistem pendidikan; peningkatan partisipasi masyarakat; dan penyempurnaan pelaksanaan interaksi.
 


 
Awal perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban, di mana orang tua mendidik anaknya dengan cara memberikan pengalaman langsung serta dengan memanfaatkan lingkungan. Kalau kita simak gambaran perkembangan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa mayoritas para tenaga kependidikan dan pembelajaran masih ada dalam lingkaran kecil yaitu peragaan ajaran atau lingkaran berikutnya media pembelajaran. Mereka belum menyadari bahwa tuntutan perkembangan zaman sekarang sudah pada lingkaran teknologi kinerja dan teknologi pembelajaran.
Pada hakikatnya teknologi pembelajaran adalah suatu disipilin yang berkepentingan dengan pemecahan masalah belajar dengan berlandaskan pada serangkaian prinsip dan menggunakan berbagai macam pendekatan. Adapun pendekatan yang digunakan dalam teknologi pendidikan yaitu:
1.      Pendekatan isomeristik, yaitu menggabungkan berbagai kajian/bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa teknik dan lain-lain) kedalam suatu kebulatan tersendiri.
2.      Pendekatan sistematik, yaitu dengan cara yang berurutan dan terarah dalam usaha pemecahan persoalan.
3.      pendekatan sinergistik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri.
4.      Sismetik, yaitu pengkajian secara menyeluruh (komprehensif).
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, teknologi pembelajaran tidak hanya berkepentingan dengan masalah belajar pada persekolahan atau lembaga pendidikan dan pelatihan, melainkan juga masalah belajar pada organisasi termasuk keluarga, masyarakat, dunia usaha maupun pemerintah. Semua bentuk teknologi termasuk teknologi pendidikan, merupakan sistem yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya yaitu mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada.
Definisi teknologi pendidikan adalah kajian dan praktis etis dalam memfasilitasi belajar dengan menciptakan, menggunakan dan mengelola proses dan sumber teknologikal tepat guna). Definisi tersebut dapat dilihat gambar di bawah ini :


 


Dalam definisi tersebut terkandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pendidikan yaitu : (1) kajian dan praktik etis, (2) Mencipta, menggunakan dan mengelola, (3) proses dan sumber teknologikal tepat guna, (4) Memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja.
Teknologi saat ini sangat mempengaruhi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Namun hendaknya dicatat bahwa kebutuhan akan belajar dan kondisilah yang akan menentukan teknologi apa yang akan digunakan, jadi bukan teknologi yang mendikte kita supaya digunakan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi penggunaannya.  
            Setiap bidang kajian hanya dapat berkembang jika didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus-menerus. Pengkajian ilmiah dalam teknologi pendidikan tidak terlepas dari : (1) filsafat dan landasan ilmiah yang menunjang keberadaan dan perkembangannya, (2) unsur-unsur dasar yang membentuknya, dan (3) arah perkembangan serta kegunaannya. Falsafat teknologi pendidikan yaitu “agar setiap orang memperoleh kesempatan belajar, baik sendiri maupun dalam ikatan organisasi, seoptimal mungkin melalui pendekatan yang sistematis dan sistemik atas proses, sumber dan sistem belajar sedemikan rupa agar tercipta efisiensi, efektivitas, dan keselarasan dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan, ke arah terbentuknya masyarakat belajar”.
Teknologi pendidikan hanya dapat diakui sebagai suatu disiplin keilmuan apabila memberikan kemungkinan untuk dilakukannya berbagai macam penelitian yang diselenggarakan dengan pendekatan yang bervariasi sesuai dengan perkembangan paradigma penelitian. Hasil penelitian tersebut akan menunjang dan memperkukuh teknologi pendidikan sebagai suatu disiplin keilmuan yang tidak bebas nilai.
Para calon teknolog pendidikan hendaknya berusaha mencari kebenaran ilmiah dengan tidak terpaku pada tabir positivis. Hendaknya pertimbangan rasionalis tidak dijadikan satu-satunya pertimbangan dalam mencari kebenaran ilmiah, namun juga digunakan pertimbangan idealis, realis, konstruktivis dan humanis. Adapun para teknolog yang telah berkarya hendaknya selalu bersikap  terbuka dan terus belajar mengikuti perkembangan mengenai hakikat otologis teknologi pembelajaran dan pendekatan epistemologisnya untuk mengungkapkan kebenaran.



BAB III
PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Model teknologi pendidikan merupakan model pendidikan konpensatoris bagi anak-anak yang mengalami hambatan sosial-ekonomi dan geografis-demografis, agar dengan sumber yang berbeda dapat mencapai tujuan pemerataan kesempatan pendidiakn yang sama dengan anak-anak yang tidak mengalami hambatan. Model ini mengandung aspek kuantitatif, kualitatif dan keserasian yang terjalin jadi satu. Model ini dapat ditunjukkan dengan unsur-unsur yang membentuknya sebagai berikut:
1.      Sumber belajar sebagai produk yang memungkinkan terjadinya tindak belajar.
2.      Proses belajar mengajar berlangsung dengan memerhatikan kondisi dan kebutuhan anak didik.
3.      Struktur organisasi lembaga pendidikan mengalami perubahan, dimana tumbuh pola instruksional yang bervariasi, berbagai bentuk lembaga pendidikan, dan tingkat pengambilan keputusan dalam proses instruksional.
4.      Kewenangan dan tanggung jawab guru kelas mengalami perkembangan, karena adanya tim pembelajaran yang memilih dan menyusun bahan belajar.
5.      Fungsi pengembangan dilaksanakan dengan sistemik untuk menghasilkan sumber belajar serta untuk berlangsungnya sistem instruksional yang efektif.
6.      Pengelolaan model ini dilakukan secara luwes dengan berorientasikan tujuan.
Kelembagaan iptek dalam pembangunan, dalam hal ini teknologi pendidikan dalam pembangunan pendidikan, telah berlangsung secara konseptual maupun operasional, meskipun dalam skala yang masih terbatas. Usaha kelembagaan itu berlangsung dalam waktu yang relaif lama, adapun beberapa indikator hasil pelembagaan itu seperti adanya peningkatan produktivitas sistem pendidikan sekolah seperti bertambahnya lulusan SMP melalui SMPT dan perguruan tinggi melalui UT, adanya efektivitas program teknologi pendidikan seperti besarnya lulusan SMPT tidak berbeda dengan SMP reguler, dan adanya efisiensi program dengan menerapkan konsep teknologi pendidikan SMPT hanya diperlukan dana 60% dari dana sekolah reguler, dengan hasil yang tidak berbeda.
Teknologi telah menjadi bagian integral dari tiap kehidupan masyarakat. Dalam bidang pendidikan dan pelatihan pula teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat baik disadari maupun tidak. Dalam bidang pendidikan atau pembelajaran, teknologi juga memenuhi tiga unsur tersebut : proses, produk dan sistem.
Pendidikan dan pelatihan dapat dibedakan dengan karakteristik sebaga berikut:

Pendidikan
Pelatihan
·   Waktu relatif lama
·   Pengakuan dengan ijazah/diploma
·   Kurikulum standar untuk keperluan mendatang (just-in-case = JIC)
·   Ditujukan bagi mereka yang akan memasuki lingkungan pekerjaan
·   Program regular dengan pengajar tetap
·   Waktu relatif singkat
·   Pengakuan dengan sertifikat
·   Kurikulum fleksibel sesuai dengan keperluan sekarang (Just-in-time = JIT)
·   Ditujukan bagi mereka yang ada/sudah dalam lingkungan kerja
·   Program tidak regular dan pengajar tidak tetap

Meskipun kedua pendidikan dan pelatihan dapat dibedakan karakteristiknya, namun kegiatannya dapat disatukan dalam lembaga penyelenggara sebagai lembaga Diklat Kedinasan atau Aparatur. Fungsi lembaga penyelenggara ini seharusnya merupakan agen pembaharu. Lembaga ini perlu memahami perubahan dalam lingkungan strategis, dan kemudian mampu menganalisis dampak perubahan itu dalam lingkungan organisasinya. Setelah itu mempersiapkan dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang sesuai hasil analisisnya.
Kondisi Negara Indonesia yang unik, serta perubahan besar yang terjadi dalam lingkungan global mengharuskan kita untuk mengembangkan sistem pendidikan yang lebih terbuka, luwes dan dapat diakses oleh siapa saja. Sistem pendidikan tersebut berfungsi meningkatkan mutu pendidikan secara merata, meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan dan meningkatkan efisiensi dalam penyelenggaraan pendidikan. Sistem pendidikan tersebut yaitu sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, yang merupakan substansi dari sistem pendidikan nasional.
Sistem pendidikan terbuka memungkinkan perolehan pendidikan yang sesuai hakikat manusia, yaitu meliputi diantaranya minat, kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Landasan epistemologis pendidikan terbuka atau jawaban tentang bagaimana sistem pendidikan ini dapat diselenggarkan, yaitu dengan memperdayakan lembaga masyarakat, termasuk keluarga untuk mengembangkan, memilih atau memperoleh pendidikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka dengan mendayagunakan sumber yang tersedia secara optimal.
Sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh dirancang untuk melayani peserta didik/warga belajar dalam jumlah yang besar dengan latar belakang pendidikan, usia, dan motivasi yang beragam, bertempat tinggal dalam wilayah yang tersebar luas, dan mempunyai waktu yang terbatas untuk melakukan komunikasi tatap muka. Untuk mengatasi batasan jarak, tempat dan waktu untuk melaksanakan proses pembelajaran, sistem pendidikan yang secara khusus diberdayakan untuk keperluan itu. Bilamana kondisi dan fasilitas memungkinkan, maka penyelenggaraan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh ini didukung dengan sistem operasional yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi.
Pada sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh ada empat komponen sistem operasional yang berbeda baik dalam penyelenggaraan maupun fungsinya dibandingkan dengan sistem pendidikan tatap muka yaitu (1) pengelolaan peserta didik/warga belajar; (2) sumber belajar, (3) dukungan pelayanan (support services); dan (4) penilaian hasil dan dampak pendidikan.Sesuai dengan karakteristiknya sebagai pendidikan yang bertumpu pada prinsip pendidikan sepanjang hayat, kebebasan, kesesuaian, mobilitas dan efisien, sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh dirancang dengan pendekatan berbeda dari sistem pendidikan tatap muka. Adapun komponen pengembangan yang perlu mendapatkan perhatian khusus mencakup : (1) visi, misi dan tujuan; (2) bentuk, modus dan cakupan program; (3) sistem penyelenggaraan; dan (4) manajemen mutu dan kareditasi.